Friday, November 02, 2007

Di Sini, Untukmu

Intermezzo mengisi kekosongan blog setelah lebaran, tiba-tiba terlintas sebuah lirik lagunya Ungu, kudengar pertama kali di mobil rental ketika acara perpisahan dengan Uwan ketika dia mo resign dari kantornya. Lumayan melow, tapi langsung suka ^_^

Di Sini Untukmu
Penyanyi: Ungu

Seandainya kau tahu betapa
Ku sangat inginkan dirimu
Seandainya kau tahu apa yang
Ada di dalam isi hatiku

Akankah bisa kunyatakan
Rasa cinta dalam hatiku
Dan apakah bisa kukatakan
Bahwa kaulah yang terindah untukku

Reff:
Masih di sini menantimu
Berharap kau akan memikirkanku
Masih di sini menunggumu
Menanti jawaban atas cintaku

Masih di sini menantimu
Berharap cinta kita ‘kan bersatu
Masih di sini menunggumu
Menanti dirimu kembali

Masih di sini o o o…
Masih di sini o o o… wuo o… a a a… wooo

Kembali ke: Reff


lirik lagu didapat dari http://www.iloveblue.com/lirik/detail/6927.htm dan http://www.liriklagumusik.com/sound-track.html

Wednesday, October 10, 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H

taqabbalallahu minna wa minkum
shiyaamana wa shiyaamakum
minal 'aidin wal faidzin

Puasa selesai sebentar lagi. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, saudara-saudaraku... Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang menang dan kembali suci. Mohon maaf atas segala salah ucap maupun salah tingkah laku, baik yang tidak disengaja maupun yang jelas-jelas disengaja. Mohon maaf juga atas diam yang tidak semestinya. Maafkan saya.....

Selamat mudik, salam untuk keluarga di kampung halaman. Hati-hati dalam perjalanan dan semoga menemukan keceriaan dan ketentraman di tengah keluarga. Semoga juga dapat kembali ke tempat kerja dengan suasana hati dan pikiran yang lebih segar.

*karena aku tidak mudik, maka aku menunggu yang mudik saja hehehe...
*masih di sini... menunggumu... (sembari melamunkan lagunya Ungu: "Di sini Untukmu")

Tuesday, October 09, 2007

Patience is Unlimited

It's still in the month of Ramadhan, so I try to write about patience. Why do we always make a relation between patience and Ramadhan? Well, because we're told to be more patient in Ramadhan. Otherwise our fast will be not perfect, and the worst thing we may get nothing in our fast unless hunger and thirst, if we become impatient.

Two of my friends told me in different time and different situation that "patience is unlimited". There is no limit to be patient. Well, that was an interesting statement. But I still can't agree with their statement because if patience is unlimited, so we never get angry in any circumstances when we set our mind to patient mode. And when I looked at my two friends who gave me that statement, I saw that both of them are not patient persons.
Don't look to who is speaking, but listen to what is spoken

Well, I'll try to understand my friends statement about patience. But until now, I still can't understand. For me, patience is limited. When it reaches the limit, then we become angry and no longer be patient.

So, is patience really unlimited? Unless there are hadist(s) that explain or state it, I still don't know the real answer.

Monday, October 01, 2007

Lailatul Qadar

Sembari makan sahur, dan menghitung hari-hari puasa, ngobrol-ngobrol soal Laitalul Qadar. Ada sebuah petikan yang menggelitikku di situ...
A: "ntar udah 19 hari kita puasa, 2 hari lagi udah mulai masuk malam ke-21"
B: "iya... trus kenapa?" (sambil makan dan rada cuek ama hitungan hari)
A: "ya gpp. mulai masuk malam Lailatul Qadar, kan mulainya setelah hari ke-20, dan tiap malam ganjil"
B: "iya"
A: "Eh.. btw, kalau mulai puasanya gak bareng gimana yach? Di Indonesia 'kan sering tu, mulai puasa gak bareng, kadang lebarannya yang gak bareng kayak besok itu, trus malam Lailatul Qadar-nya jatuh hari apa dong? Ganjil buat yang satu kan berarti genap buat yang lain..."
B: (sambil tetep makan dan cuek) "Ya mangkanya, Indonesia tu gak pernah dapet Lailatul Qadar. Bingung ngitungnya soalnya. Dan karena Tuhan tu Maha Adil, ya udahlah mending semuanya gak dikasih"

Glekk... hummm.... bener juga ya, jangan-jangan Tuhan bingung (loh... mosok Tuhan bingung? Ada-ada aja nih pikiran). Secuplik percakapan ringan di atas membuatku berpikir ke mana-mana. Beberapa pikiran sempet melayang di kepala
  • Apa benar perbedaan penghitungan hari yang jamak terjadi di Indonesia, itu sudah bukan lagi merupakan rahmat? Kata-kata si B tadi cukup mengganggu pikiranku, walau dia menyampaikan dengan bahasa yang mengundang konflik SARA hehe..
  • Apa benar Lailatul Qadar itu hanya terjadi di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan? Lantas bagaimana dengan Nuzulul Qur'an yang jatuhnya di tanggal 17 (jelas ini bukan 10 hari terakhir Ramadhan) dan disebutkan bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar? kalau hal ini memang saya akui bahwa referensi hadits saya sedikit sekali. Mohon pencerahan...
  • Kemudian saya berpikir, buat apa kita harus mempersoalkan Lailatul Qadar? Puasa itu sendiri adalah hak dan milik Allah, demikian juga dengan Lailatul Qadar ini. Sedikitnya informasi yang jelas tentang waktu dan tanda-tanda malam ini yang membuat saya berpikir bahwa malam tersebut memang tidak masuk dalam capaian alam berpikir manusia.
Ahh.... entahlah, saya tidak pernah terlalu peduli dengan hitungan puasa, yang penting digenapi, ibadah diperbanyak, dan usaha menempa diri diperkuat. Saya pun merasa untuk tahun ini Lailatul Qadar itu bukan untuk saya, terlalu sedikit amalan saya di bulan ini. Akan tetapi, kalau memang diberi rejeki dan mendapatkan kemuliaan malam tersebut, ya alhamdulillahi rabbil 'aalamiin. Yang jelas tetap istiqomah untuk berprasangka baik kepada Allah, karena Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Lah... lantas gimana kalau ditanyain ama adek-adek kecil, atau kalo besok dah punya anak dan dia tanya gitu ke bapaknya? Mosok bapaknya gak bisa jawab? (halah.... gambaran punya istri aja belum ada malah dah mikir anak :p ). Yach, kalau ditanyain orang-orang yang belum dewasa, ya akan kujawab saja:
"Lailatul Qadar itu malam di mana segala ibadah yang kita lakukan akan dinilai berlipat-lipat, nilai satu malam itu dilipatgandakan sampai 1000 bulan. Waktunya... di salah satu malam di bulan Ramadhan. Jadi jangan kendor ibadahnya selama 1 bulan penuh, biar nanti di salah satu malamnya akan dapat malam Lailatul Qadar."

Jadi dia akan rajin dan terbiasa rajin ibadah. Nanti kalau sudah dewasa dan dia bisa memahami makna secara lebih dalam, ya itu terserah dia nantinya, yang jelas dia akan terbiasa tidak memilih-milih waktu untuk ibadah di bulan Ramadhan :-)

19 Ramadhan 1428 H*

*tanggal 19 ini adalah versi yang saya ikuti, kalau ada versi lain ya silakan aja hihihihi

Tuesday, September 25, 2007

Lesson Learned

Kali ini tentang Project Management. Ada sebuah dokumen yang ada dalam rangkaian fase dalam project management, ada 1 dokumen yang isinya memuat berbagai pelajaran yang dipetik dari pengerjaan suatu project yang disebut sebagai "Lesson Learned Report". Pelajaran itu bisa berupa pelajaran baik maupun yang buruk. Tujuan pembuatan dokumen adalah untuk pembelajaran, baik untuk project itu sendiri (andaikata belum selesai) maupun project-project lain yang akan dikerjakan.

Dari pengalaman pengerjaan di beberapa project, ternyata ada beberapa hal yang bisa di-share di sini. Mungkin rekan-rekan sekalian pernah mengalaminya, atau bahkan mengalami hal yang belum ada di sini. Ini hanya keinginan untuk men-share sebuah pengalaman dan pengamatan.

Dari beberapa pengamatan terhadap project yang ada, biasanya akan mengalami pemekaran scope project, requirement gathering yang tidak sempurna, serta development yang tidak/kurang memuaskan.
  • Pemekaran scope project
    • Pemekaran scope project ini biasanya terjadi karena kurangnya antisipasi tim project yang bersangkutan (tim yang dimaksud ini mencakup tim pemasaran hingga tim produksi) dan "terlalu percaya" pada fase yang namanya pre-assessment. Dari pengalaman di berbagai project, dapat disimpulkan bahwa apa yang dipromosikan dan diterima oleh (calon) klien pada saat pre-assessment atau pra-proyek itu sebenarnya masih jauh dari bayangan sebenarnya. Jadi jangan harapkan mendapat bayangan lebih dari separo ketika fase ini. Jika mempunyai produk dan memiliki kebijakan kustomisasi sekian persen (misal: 30% seperti di kantor saya) asumsikan saja ketika masa pre-assessment baru didapat 10% dari keinginan kustomisasi keseluruhannya, sehingga dengan asumsi seperti itu kita bisa membuat antisipasi yang lebih nyaman, misal dengan mematok harga lebih tinggi (tidak menetapkan margin yang mepet), atau mematok target waktu lebih panjang, dan juga membatasi request-request pada masa pre-assessment dengan asumsi bahwa di masa pengembangan pasti tetap ada request tambahan yang sulit untuk ditolak.
    • Mengapa pre-assessment harus diasumsikan meleset jauh? Hal ini pertama disebabkan oleh terlalu sedikitnya waktu yang dipunyai oleh tim pada masa itu. Dalam waktu yang sedikit, tentu saja hampir tidak mungkin jika berharap hasil yang didapat akan banyak. Yang kedua, perlu diasumsikan bahwa klien tidak "siap setiap saat" untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita maupun memberi feedback saat aplikasi yang kita bangun telah jadi atau setengah jadi. Bisa jadi mereka hanya akan siap pada saat-saat tertentu saja. Misal kita membangun sistem untuk pendaftaran ujian masuk PT secara online. Maka asumsikan saja klien akan mencermati hasil kerja yang kita bangun hanyalah pada masa-masa kelulusan SMA, karena pada saat itulah mereka memerlukan/memakai aplikasi kita. Di luar waktu tersebut, asumsikan saja feedback yang ada hanya mencerminkan 10% dari keseluruhan feedback.
    • Lemahnya perjanjian maupun kesepakatan pada saat project belum deal, sehingga pada saat pengembangan para project manager beserta tim developer-nya tidak kuasa saat menghadapi request yang terus membengkak.
  • Requirement Gathering (RG) yang tidak sempurna. RG merupakan hal yang sangat penting bagi pengembangan software. Kesalahan yang terjadi di fase ini akan berakibat pengembangan berikutnya akan salah semua. RG yang tidak sempurna ini bisa disebabkan karena berbagai faktor:
    • Kualitas para system analyst (SA) yang belum sesuai dengan harapan. Untuk menganalisis sistem dengan baik memang tidak "sesederhana" fase konstruksi (coding). Coding saya sebut sebagai sederhana karena sesulit apapun di dalamnya, namun aspek yang dipikirkan hanya sampai pada level output yang sesuai dengan harapan, dan efektifitas coding itu sendiri. Sedangkan analysis harus mempertimbangkan aspek teknis (feasible atau tidak), kemudian berapa estimasi effort yang dibutuhkan untuk mengakomodir suatu request, kemudian kemungkinan pengembangan dari suatu request, dan bagaimana menyikapi kemungkinan pengembangan itu, dst. Semakin tinggi jam kerja seorang system analyst, maka akan semakin tajam juga kemampuannya.
    • Selain kualitas, pengetahuan seorang SA terhadap aplikasi/program yang ditanganinya juga menjadi faktor penentu kualitas RG. RG untuk aplikasi yang sudah biasa ditangani akan lebih baik dibanding RG untuk aplikasi yang baru untuk dia, walaupun dia sudah diberi waktu dan tugas untuk mempelajari.
    • Waktu/kesempatan untuk melakukan RG. Makin lama dan sering waktu/kesempatan untuk RG, maka akan semakin tajam dan bagus pula hasil analisa yang diperoleh. (RG sebagaimana fase development yang lain, bisa dan sangat baik jika diperlakukan secara iteratif). Dan ketidaksempurnaan RG ini, salah satunya adalah minimnya waktu dan kesempatan yang diberikan kepada SA untuk bereksplorasi di fase ini, karena biasanya titik perhatian adalah di fase konstruksi.
  • Development yang kurang memuaskan.
    • Fase ini biasanya jarang menjadi biang-keladi dari kegagalan dalam pengembangan project. Namun fase ini juga bisa menjadi salah satu faktor. Kondisi development yang kurang memuaskan ini --menilik dari pengalaman pribadi-- terjadi apabila developer ybs memang di bawah standar, atau bisa jadi karena beban kerjanya yang di atas rata-rata. Misalnya bekerja paralel untuk mengerjakan beberapa aplikasi. Paralelisme hanya akan efektif sampai batas tertentu, untuk kemudian akan menurunkan performa jika diperbanyak paralelnya.
Well, itu dari sisi teknis. Bagaimana dengan non-teknis? Beberapa pengalaman yang bisa di-share adalah:
  • Komunikasi antara developer dengan klien. Semakin intensif komunikasi yang terjadi (dengan media apapun) maka pengembangan project akan semakin baik. Tentu saja mekanisme komunikasi ini perlu diformulakan dengan formulasi terbaik. Misal: kita tidak bisa memaksakan komunikasi dengan e-mail (yang relatif murah dan cukup praktis) sementara klien kita susah sekali untuk konek ke internet dengan berbagai alasannya. Itu tidak akan efektif.
  • Klien yang kurang proaktif. Jika klien semakin proaktif, maka hasil yang diperoleh akan semakin baik, walaupun klien yang proaktif ini sering membuat kuping jadi panas hehehe. Namun jika klien tidak proaktif, akan mengakibatkan SA kita tidak bisa menganalisi sistem dengan sempurna, kemudian aplikasi kita tidak dapat dites dengan sempurna (sehebat-hebatnya aplikasi, pasti ada aja kekurangannya, dan sehebat-hebat tester di sisi developer, pasti akan tetap dibutuhkan tester di sisi klien/tester saat implementasi). --tentang aplikasi yang tidak ada yang sempurna ini, kalo mau mendebat saya silakan, kalo ada aplikasi yang "sempurna", ya pasti dia memang sudah mengalami penyempurnaan berkali-kali :p itu pendapat saya--
  • Pelatihan aplikasi (pelatihan ini biasanya diperlukan agar para pengguna lebih mudah dalam masa transisi penggunaan program) sebaiknya tidak diletakkan di bagian yang sangat akhir. Memang pelatihan ini idealnya dilakukan setelah semua development selesai, namun biasanya event inilah yang menjadi gerbang terakhir datangnya change request dari klien. Nah, kalau ini diletakkan benar-benar di akhir, maka developer akan kehabisan waktu untuk memperbaiki program/aplikasi. Sehingga terpaksa dilakukan perpanjangan, padahal sebenarnya kita bisa mengakalinya dengan menempatkan pelatihan agak ke tengah waktu.
  • Perlunya didapat kesepakatan tentang perbedaan "pelatihan" dan "pendampingan" dalam implementasi program/aplikasi karena 2 hal ini memang berbeda, dan "bagusnya" biasanya terjadi perbedaan persepsi antara developer dan klien terhadap 2 ini hehehe.
  • Struktur organisasi pada klien maupun developer ternyata sangat mempengaruhi struktur organisasi pada proyek. Walaupun sering dibilang bahwa orang-orang pada proyek itu bertanggung jawab untuk proyek dan berbeda dengan tanggung jawab jabatan di instansi, namun tetap saja itu sangat berpengaruh pada kenyataannya. Dan itu perlu diwaspadai, terutama ketika terjadi mutasi jabatan, baik di sisi klien maupun developer.

Wew..... ternyata panjang juga hehehe. Yach, itu "sedikit" yang bisa saya share dalam kesempatan kali ini. Mungkin sedikit (atau malah banyak) meleset dari teori, karena memang tidak based-on-theory. Sekedar memperkaya pengalaman saja.

Saturday, September 22, 2007

--- Empty ---

Suddenly.... I feel very tired this afternoon. I look at my computer clock, ufff... 1 pm. It's still a long... long... long day to spend.

My mood is suddenly shattered, dissolved, disorganized.... I don't know....

a shocking phone call just before the end of work-time...
a buzz in my messenger that I didn't understand what it meant...
an unusual action and strange decision that caught in my eye...

I want to sleep, but there are still much work to do
I want to smoke lots of cigarrettes, but it is still fasting time now


I don't know what has happened to me, but now I only want to be alone for awhile....
God, please forgive my impatience in Your Ramadhan. Please, forgive my weakness.... forgive me for feeling tired..... very tired.....

Friday, September 21, 2007

Kerinduan di Suatu Senja

Kuberlari-lari ke sebuah halte, yang berada tak begitu jauh dari kantorku. Dengan napas yang masih terengah-engah dan haus yang mulai menyergap (maklum, puasa... sore-sore, dah seharian kerongkongan tidak basah) mataku mulai menyapu halte yang tidak terlalu besar itu, meneliti satu-persatu orang yang ada di situ. Sore itu, seperti sore biasanya, halte kecil itu penuh sesak dengan orang. Sebagian besar mereka adalah pekerja kantoran sepertiku yang sedang menanti bis yang mengantar mereka pulang.

Seluruh orang yang ada di situ telah kupandangi, bahkan hingga kuulang lagi. Namun sosok yang kucari tidak ada di situ. Sosok yang mengisi relung hati akhir-akhir ini, namun kutak tau isi relung hatinya. Persendianku langsung terasa makin lemas. Apakah secepat itu dia menghilang? Padahal baru beberapa menit saja berlalu sejak kuterima pesannya di handphone-ku bahwa dia sedang menunggu bis di halte itu. Sejenak, pikiranku melayang kemana-mana. Berbagai pikiran buruk melayang di pikiran, namun segera kuhapus lagi. Tak baik berprasangka buruk, apalagi sedang puasa. Bisa rusak nilai puasa hari ini yang sudah tinggal sebentar lagi akan selesai dalam hitungan menit.

Akhirnya dengan langkah gontai aku kembali lagi ke kantorku, mengambil motor dan tas kerjaku kemudian melaju ke arah selatan, menuju warung tenda favoritku dan menghabiskan waktu berbuka puasa di sana, menikmati es buah dan menghisap sebatang rokok, sambil menahan sebuah kerinduan.